Sakit, atau merasa sakit, merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk menunda keberangkatannya naik haji. Setidaknya ada dua bayangan atau pertanyaan yang terbayang.
1. Bagaimana saya bisa melaksanakan ibadah di tanah suci dengan baik jika menderita sakit?
2. Jika uang saya digunakan untuk membayar haji, bagaimana dengan ongkos berobat saya di kemudian hari?
Disadari atau tidak, mungkin ada dari kita yang memiliki anggapan tersebut.
Namun, percaya atau tidak, justru ada pengalaman seorang penderita batu ginjal yang sembuh dari penyakitnya yang bertahun-tahun ketika di tanah suci. Berikut ini merupakan kisah seorang jamaah haji di sebuah kabupaten di Jawa Timur bernama Pak Ahmad (bukan nama sebenarnya).
Pak Ahmad termasuk dalam rombongan haji Tahun 2006 atau 1427 H. Sebelum itu, beliau menderita penyakit kencing batu atau batu ginjal cukup kronis. Beragam upaya medis dan konsumsi obat dokter menjadi menu sehari-hari. Kondisi sakit ini berlangsung cukup lama. Jika kambuh, rasa sakit yang menderanya sangat luar biasa.
Namun, sakit itu bukan menjadi penghalang bagi Pak Ahmad untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Diputuskannya untuk berangkat haji pada tahun 2006 dengan berbekal obat resep dokter. Rasa takut sakitnya kambuh di tanah suci dikalahkan keinginannya yang menggebu untuk menjalankan Rukun Islam kelima di tanah suci.
Dengan diiringi rasa sakit, Pak Ahmad tetap menjalankan aktivitas harian di Masjidil Haram. Jika rasa sakit menyergap, ia pun mengonsumsi obat resep dokter yang dibawanya dari tanah air. Ia tak ingin, rasa sakit itu mengganggu kenikmatannya dalam beribadah.
Suatu saat, ia hendak kembali ke pemondokannya di sektor IV Jawar Taisir setelah beribadah di Masjidil Haram. Namun, rasa sakit karena gangguan ginjalnya kembali kambuh. Ironisnya, obat resep dokter yang telah disiapkan cukup selama di Tanah Suci ternyata sudah habis. Dengan tertatih-tatih ia mencari taksi untuk pulang kembali ke pemondokannya yang berjarak 1,5 km dari Masjidil Haram. Padahal, jika tidak terserang sakit, ia biasa menempuhnya dengan berjalan kaki.
Sesampainya di pemondokan, Pak Ahmad segera ditangani dokter kloter dan perawat medis. Namun, obat untuk kencing batu simpanan kloter tidak tersedia saat itu. Akhirnya, dokter membuatkan resep obat untuk dibeli di apotek rujukan di sekitar sektor Jarwal. Ketua regu dan beberapa teman Pak Ahmad pun berputar untuk mencari obat tersebut.
Sementara menunggu obat datang, Pak Ahmad merintih menahan rasa sakit. Kepanikan pun terjadi ketika beliau mengeluarkan air seni disertai darah yang begitu banyak. Belum berakhir sampai di situ, ketua regu dan teman-temannya yang telah kembali tidak berhasil mendapatkan obat tersebut.
Akhirnya, dengan segala kepasrahan dan keikhlasan atas ujian itu, Pak Ahmad meminum air Zam-Zam yang dibawa dari Masjidil Haram hingga lebih dari 3 liter. Dengan terus berdoa, diminumnya air tersebut hingga tidak mampu meminumnya lagi. Pak Ahmad pun beristirahat di pembaringan sambil terus berdoa dan menahan rasa sakit. Sementara air seni bercampur darah terus keluar.
Setelah 30 menit berlalu, Pah Ahmad minta diantar ke kamar mandi. Dengan tertatih menahan sakit, beliau dipapah oleh rekan-rekannya menuju ke kamar mandi yang terletak di ujung kamar. Selang beberapa saat setelah Pak Ahmad masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara keras. BLETAAKK..! Seperti suara sesuatu menabrak dinding kamar mandi. Apa yang terjadi?
Subhanallah! Terdengar Pak Ahmad berteriak dari dalam kamar mandi. Teman-temannya yang berada di luar kamar mandi menjadi bingung. Apa yang terjadi?
Beberapa saat kemudian Pak Ahmad keluar sambil berlinangan air mata, tetapi tersenyum bahagia. Adapun tangannya menggenggam batu sebesar jempol kaki orang dewasa. Ya, itulah batu yang menimbulkan suara keras tadi.
“Subhanallah...Allahu Akbar... ,” begitulah ucap Pak Ahmad berkali-kali meneriakkan kalimat thoyyibah sambil menunjukkan batu seukuran jempol kaki itu. Itulah batu ginjal yang selama ini bersarang di ginjalnya selama bertahun-tahun. Di dalam kamar, Pak Ahmad pun bersujud syukur atas karunia dan keajaiban yang beliau rasakan.
Semua teman-temannya yang ada di kamar takjub, merinding, dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya kalimat thayyibah yang terus keluar dari mulut mereka melihat kejadian yang menakjubkan ini. Sejak saat itu, hilang pula rasa sakit yang selalu diderita Pak Ahmad selama ini.
Pak Ahmad pun bercerita bahwa saat mengeluarkan air seni, tiba-tiba terdengan suara yang begitu keras menabrak dinding kamar mandi. Setengah tidak percaya, dicarinya apa yang terlempar tadi. Subhanallah, ternyata batu ginjalnya. Hal menakjubkan selain itu adalah tidak munculnya rasa sakit ketika batu itu keluar.
Itulah keajaiban haji. Itu pula keajaiban air zam-zam yang ada di tanah suci. Semuanya sudah disabdakan lewat lisan Nabi Muhammad saw yang diberkahi.
Dari Abdullah Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya. Dan mereka memohon kepada-Nya, Dia pun memberikan permohonan mereka.” (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Hibban)
Disebutkan oleh As Suyuthi dari hadis Ibnu Abbas, dan HR. Al Hakim dan Ad Daruquthni bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Air zam-zam itu berkhasiat sesuai dengan apa yang diniatkan. Jika engkau meminumnya dengan niat meminta kesembuhan maka Allah akan menyembuhkanmu, dan jika engkau meminumnya dengan niat agar dahagamu hilang maka Allah akan menghilangkan dahagamu. Ia adalah galian Jibril dan siraman Allah kepada Ismail.”
Jadi, jangan takut lagi untuk naik haji. Jangan pula rela untuk menunggu berlama-lama. Wujudkan segera niat kita untuk naik haji. Semoga Allah memberkahi. (RA)
Tampilkan postingan dengan label artikel haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel haji. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 April 2012
Jumat, 13 April 2012
Kembali Naik Haji Berkat Mengaminkan Doa Orang Lain
Mitra haji dan umrah, ada sebuah kisah menarik seputar haji yang dituliskan oleh seorang kompasianer. Kisah ini sedikit berbeda dengan kisah yang banyak kita jumpai. Sangat menarik dan inspiratif, yaitu bagaimana seseorang bisa naik haji justru karena diam-diam mengaminkan doa orang lain yang sedang berdoa.
Kisah ini bermula pada tahun 1998, ketika Pak Dahlan (bukan nama sebenarnya) pergi menunaikan ibadah haji. Ketika itu, Pak Dahlan menunaikan haji atas biaya dinas alias ABIDIN. Wajar memang, apalagi ketika itu beliau sebagai anggota Bintal, yang bertugas menangani pembinaan rohani dan mental para pegawai di salah satu instansi pemerintah.
Nah, pada tahun 1998 itulah beliau mendapatkan pengalaman unik yang sangat berkesan. Ketika sedang beriktikaf di depan Ka’bah karena menunggu waktu shalat, tiba-tiba di depan beliau muncul seorang jamaah yang berdoa dengan suara keras. Jamaah yang masih berpakaian ihram itu berdoa dengan suara bergetar:
“Yaa Allah, Yaa Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan sangat dan amat agar aku bisa datang lagi ke rumah-Mu beserta istriku pada tahun 2003. Ya Allah, kabulkanlah permohonanku ini, aamiin.”
Mendengar doa itu, Pak Dahlan yang awalnya terkaget-kaget, seketika ikut mengaminkan doa tersebut. Berharap agar doa jamaah tersebut dikabulkan Allah. Dan...ajaib! Tepat pada tahun 2003, Pak Dahlan kembali menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Jika dua kali naik hajinya yang lalu Cuma seorang diri, tahun 2003 beliau menunaikan ibadah haji berdua, bersama istrinya. Subhanallah...
***
Mitra haji dan umrah, begitu dahsyatnya kekuatan doa bagi seorang muslim. Bukan hanya karena doa itu dilantunkan oleh diri sendiri atau orang yang secara terbuka kita ikuti doanya, sebagaimana doa ketika khutbah Jumat. Bahkan, ketika kita mengaminkan doa itu secara diam-diam. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam hal ini, yaitu pada kisah Pak Dahlan di atas.
1.Kekuatan dan keutamaan doa
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku”. (QS. Al Baqarah: 186)
Diriwayatkan dari shahabat Nu’man bin Basyir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Do’a adalah ibadah”, kemudian setelah itu beliau membaca ayat “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60) (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad no.714.
Tentunya, doa akan dikabulkan jika syarat dan adab berdoa kepada Allah terpenuhi.
2.Kehebatan doa jamaah haji
Dari Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu anhu, Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang naik haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.” (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Hibban)
3. Doa yang diucapkan kepada seorang muslim tanpa bersamanya atau tanpa diketahuinya
Dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan dari ad Darda, ia berkata: Aku datang ke Syam dan aku mendatangi Abu Darda di rumahnya. Tapi aku tidak menemukannya dan bertemu dengan Ummi Darda. Ia berkata, “Apakah engkau hendak berangkat haji pada tahun ini?” Aku berkata, “Ya.” Ia berkata, “Berdoalah kepada Allah minta kebaikan untuk kami, karena Nabi saw pernah bersabda:
‘Doanya seorang muslim kepada saudaranya yang tidak bersamanya pasti dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang menjaganya. Setiap kali ia berdoa minta kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata, “Amin.” Dan engkau akan mendapatkan yang serupa’.”
Shafwan berkata: Kemudian aku keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda, ia pun berkata sama seperti istrinya. (HR. Muslim)
4.Keutamaan doa di Masjidil Haram dan Ka’bah
Berdoa di depan Ka’bah, insya Allah dikabulkan. Hal ini disebabkan adanya tempat-tempat mustajab untuk berdoa. Sebagaimana kita ketahui, Masjidil Haram merupakan tempat yang sangat utama. Shalat di dalamnya digajnar pahala 100.000 kali shalat di masjid-masjid lainnya.
Adapun Ka’bah sendiri adalah Baitullah (Rumah Allah) yang menjadi kiblat shalat. Terdapat bagian dinding Ka’bah yang disebut dengan Multazam, tempat yang mustajab untuk berdoa. Di samping itu, terdapat pula Hijir Ismail, yang merupakan bagian dari Ka’bah. Hijir Ismail ini juga merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tempat di antara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim adalah Multazam. Setiap orang sakit yang berdoa di sana pasti akan sembuh.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).
Nah, begitu banyak keutamaan dan manfaat saat beribadah haji di tanah suci. Jika punya rezeki, jangan tunggu lama, segera daftarkan diri untuk berhaji dan bersiap pergi ke tanah suci. (RA)
Kisah ini bermula pada tahun 1998, ketika Pak Dahlan (bukan nama sebenarnya) pergi menunaikan ibadah haji. Ketika itu, Pak Dahlan menunaikan haji atas biaya dinas alias ABIDIN. Wajar memang, apalagi ketika itu beliau sebagai anggota Bintal, yang bertugas menangani pembinaan rohani dan mental para pegawai di salah satu instansi pemerintah.
Nah, pada tahun 1998 itulah beliau mendapatkan pengalaman unik yang sangat berkesan. Ketika sedang beriktikaf di depan Ka’bah karena menunggu waktu shalat, tiba-tiba di depan beliau muncul seorang jamaah yang berdoa dengan suara keras. Jamaah yang masih berpakaian ihram itu berdoa dengan suara bergetar:
“Yaa Allah, Yaa Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan sangat dan amat agar aku bisa datang lagi ke rumah-Mu beserta istriku pada tahun 2003. Ya Allah, kabulkanlah permohonanku ini, aamiin.”
Mendengar doa itu, Pak Dahlan yang awalnya terkaget-kaget, seketika ikut mengaminkan doa tersebut. Berharap agar doa jamaah tersebut dikabulkan Allah. Dan...ajaib! Tepat pada tahun 2003, Pak Dahlan kembali menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Jika dua kali naik hajinya yang lalu Cuma seorang diri, tahun 2003 beliau menunaikan ibadah haji berdua, bersama istrinya. Subhanallah...
***
Mitra haji dan umrah, begitu dahsyatnya kekuatan doa bagi seorang muslim. Bukan hanya karena doa itu dilantunkan oleh diri sendiri atau orang yang secara terbuka kita ikuti doanya, sebagaimana doa ketika khutbah Jumat. Bahkan, ketika kita mengaminkan doa itu secara diam-diam. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam hal ini, yaitu pada kisah Pak Dahlan di atas.
1.Kekuatan dan keutamaan doa
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku”. (QS. Al Baqarah: 186)
Diriwayatkan dari shahabat Nu’man bin Basyir ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Do’a adalah ibadah”, kemudian setelah itu beliau membaca ayat “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60) (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad no.714.
Tentunya, doa akan dikabulkan jika syarat dan adab berdoa kepada Allah terpenuhi.
2.Kehebatan doa jamaah haji
Dari Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu anhu, Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang naik haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.” (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Hibban)
3. Doa yang diucapkan kepada seorang muslim tanpa bersamanya atau tanpa diketahuinya
Dari Shafwan bin Abdullah bin Shafwan dari ad Darda, ia berkata: Aku datang ke Syam dan aku mendatangi Abu Darda di rumahnya. Tapi aku tidak menemukannya dan bertemu dengan Ummi Darda. Ia berkata, “Apakah engkau hendak berangkat haji pada tahun ini?” Aku berkata, “Ya.” Ia berkata, “Berdoalah kepada Allah minta kebaikan untuk kami, karena Nabi saw pernah bersabda:
‘Doanya seorang muslim kepada saudaranya yang tidak bersamanya pasti dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang menjaganya. Setiap kali ia berdoa minta kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata, “Amin.” Dan engkau akan mendapatkan yang serupa’.”
Shafwan berkata: Kemudian aku keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda, ia pun berkata sama seperti istrinya. (HR. Muslim)
4.Keutamaan doa di Masjidil Haram dan Ka’bah
Berdoa di depan Ka’bah, insya Allah dikabulkan. Hal ini disebabkan adanya tempat-tempat mustajab untuk berdoa. Sebagaimana kita ketahui, Masjidil Haram merupakan tempat yang sangat utama. Shalat di dalamnya digajnar pahala 100.000 kali shalat di masjid-masjid lainnya.
Adapun Ka’bah sendiri adalah Baitullah (Rumah Allah) yang menjadi kiblat shalat. Terdapat bagian dinding Ka’bah yang disebut dengan Multazam, tempat yang mustajab untuk berdoa. Di samping itu, terdapat pula Hijir Ismail, yang merupakan bagian dari Ka’bah. Hijir Ismail ini juga merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Tempat di antara sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim adalah Multazam. Setiap orang sakit yang berdoa di sana pasti akan sembuh.” (HR. Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Jilid V, hal. 347).
Nah, begitu banyak keutamaan dan manfaat saat beribadah haji di tanah suci. Jika punya rezeki, jangan tunggu lama, segera daftarkan diri untuk berhaji dan bersiap pergi ke tanah suci. (RA)
Selasa, 27 Maret 2012
Ini Dia! Motivasi Meraih Keutamaan Haji
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika la syarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulka, la syarika lak
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya, segala pujian dan nikmat serta kerajaan adalah milik-Mu., tidak ada sekutu bagi-Mu).
Itulah kalimat Talbiyah yang diucapkan jutaan jamaah haji kala memasuki waktu haji di tanah haji. Sebuah kalimat yang menunjukkan ketundukan, pengagungan, dan rasa syukur kepada Allah swt. Bagaimana tidak, untuk sampai dan menjejakkan kaki pada waktu itu, jamaah calon haji harus menundukkan segala tantangan dan rintangan. Mulai dari kesungguhan niat, keluangan waktu, kekuatan fisik, kesiapan mental, hingga kemampuan harta.
Tanpa ikhtiar yang tinggi, tanpa tekad dan kesungguhan, barangkali mereka lebih memilih tinggal dengan tenang di rumah masing-masing. Tak perlu ada kerepotan saat mengurus berkas-berkas. Tak perlu mempersiapkan fisik dan menjaga pola makan. Tak perlu berlari-lari antara safa—marwa di bawah terik matahari. Tak perlu berdesakan dengan jamaah lain saat thawaf dan lempar jumroh. Tak perlu pula, memaksakan diri mengeluarkan dana yang besar itu.
Namun, itu tidak terjadi bagi sebagian orang lainnya. Untuk bisa “mendapatkan undangan” dari Allah swt, mereka rela untuk berusaha keras, meminta, dan “mengambil hati” Allah swt agar diperkenankan mendapatkan undangan prestisius itu. Mereka tidak khawatir dengan segala kerepotan saat mengurus berkas-berkas. Mereka tidak khawatir dengan kondisi kesehatannya. Mereka tidak khawatir saat beraktivitas di bawah terik matahari. Mereka tidak khawatir saat harus berdesakan dengan para jamaah. Untuk mendapatkan undangan itu, mereka rela bersusah payah agar bisa mendapatkannya.
Berjuta-juta orang ingin menunaikan ibadah haji, bahkan berebut kesempatan untuk menjadi yang lebih dulu. Namun, berjuta-juta pula orang yang masih enggan memenuhi undangan kunjungan ke Baitullah. Mengapa?
Bisa jadi, perbedaan sikap dan antusiasme itu disebabkan tingkat pemahaman seseorang terhadap ibadah haji. Padahal, jika mereka mengetahui, begitu besar keutamaan dari ibadah haji. Tidak hanya bagi kehidupan akhirat semata, tetapi juga efeknya terhadap kehidupan dunia.
Nah, mitra haji dan umrah. Inilah keutamaan ibadah haji, yang telah memotivasi dan sanggup menggerakkan berjuta-juta manusia di seantero penjuru bumi untuk pergi ke tanah suci.
1. Amal yang paling utama
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Maka beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "haji yang mabrur." (HR. Bukhari)
2. Jihad yang paling utama bagi para wanita, orang tua, dan orang lemah
Dari Husein bin Ali kw, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw, katanya: Saya ini penakut dan saya ini lemah. Ujar Nabi: "Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya, yaitu menunaikan haji" (HR. Thabrani).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda: " Jihad orang yang tua, lemah dan wanita ialah menunaikan haji" (HR. Nasa'i).
3. Penghapus dosa
Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak bercampur pada waktu terlarang serta tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti saat dilahirkan ibunya (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Sebagai duta Allah
Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah. Maka jika mereka memohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun, pastilah diampuni-Nya (HR. Nasa'i dan Ibnu Majah).
5. Menghapus kefakiran
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda: “Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa, sebagaimana alat peniup api pandai besi menghilangkan kotoran pada besi, emas, dan perak. Dan tiada balasan pahala dari haji yang mabrur, kecuali surga. Tidaklah seorang mukmin yang dalam kesehariannya berada dalam keadaan ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosnya.”
6. Mendapat balasan surga
Rasul Saw bersabda: Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dibanggakan Allah di hadapan malaikatnya
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda: “Apabila mereka wukuf di Arafah, Allah membanggakannya di hadapan para malaikat…” (HR. Ibnu Hibban)
8. Doa-doanya diterima
Dari Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka."
9. Perlakuan istimewa saat meninggal ketika berhaji
Dari 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata: "Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dipadang 'Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasu-lullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: 'Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguh-nya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.'"
10. Setiap langkahnya adalah kebaikan
Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau mengangkatnya satu derajat."
Itulah keutamaan haji yang membuat berjuta-juta manusia “kepincut” hatinya untuk melaksanakan ibadah ini. Mereka rela mengeluarkan biaya yang berjuta-juta itu, bahkan sampai menjual sawah dan ladangnya agar bisa pergi haji. Nah, sekarang, bagaimana dengan Anda? (RA)
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya, segala pujian dan nikmat serta kerajaan adalah milik-Mu., tidak ada sekutu bagi-Mu).
Itulah kalimat Talbiyah yang diucapkan jutaan jamaah haji kala memasuki waktu haji di tanah haji. Sebuah kalimat yang menunjukkan ketundukan, pengagungan, dan rasa syukur kepada Allah swt. Bagaimana tidak, untuk sampai dan menjejakkan kaki pada waktu itu, jamaah calon haji harus menundukkan segala tantangan dan rintangan. Mulai dari kesungguhan niat, keluangan waktu, kekuatan fisik, kesiapan mental, hingga kemampuan harta.
Tanpa ikhtiar yang tinggi, tanpa tekad dan kesungguhan, barangkali mereka lebih memilih tinggal dengan tenang di rumah masing-masing. Tak perlu ada kerepotan saat mengurus berkas-berkas. Tak perlu mempersiapkan fisik dan menjaga pola makan. Tak perlu berlari-lari antara safa—marwa di bawah terik matahari. Tak perlu berdesakan dengan jamaah lain saat thawaf dan lempar jumroh. Tak perlu pula, memaksakan diri mengeluarkan dana yang besar itu.
Namun, itu tidak terjadi bagi sebagian orang lainnya. Untuk bisa “mendapatkan undangan” dari Allah swt, mereka rela untuk berusaha keras, meminta, dan “mengambil hati” Allah swt agar diperkenankan mendapatkan undangan prestisius itu. Mereka tidak khawatir dengan segala kerepotan saat mengurus berkas-berkas. Mereka tidak khawatir dengan kondisi kesehatannya. Mereka tidak khawatir saat beraktivitas di bawah terik matahari. Mereka tidak khawatir saat harus berdesakan dengan para jamaah. Untuk mendapatkan undangan itu, mereka rela bersusah payah agar bisa mendapatkannya.
Berjuta-juta orang ingin menunaikan ibadah haji, bahkan berebut kesempatan untuk menjadi yang lebih dulu. Namun, berjuta-juta pula orang yang masih enggan memenuhi undangan kunjungan ke Baitullah. Mengapa?
Bisa jadi, perbedaan sikap dan antusiasme itu disebabkan tingkat pemahaman seseorang terhadap ibadah haji. Padahal, jika mereka mengetahui, begitu besar keutamaan dari ibadah haji. Tidak hanya bagi kehidupan akhirat semata, tetapi juga efeknya terhadap kehidupan dunia.
Nah, mitra haji dan umrah. Inilah keutamaan ibadah haji, yang telah memotivasi dan sanggup menggerakkan berjuta-juta manusia di seantero penjuru bumi untuk pergi ke tanah suci.
1. Amal yang paling utama
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Maka beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "haji yang mabrur." (HR. Bukhari)
2. Jihad yang paling utama bagi para wanita, orang tua, dan orang lemah
Dari Husein bin Ali kw, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw, katanya: Saya ini penakut dan saya ini lemah. Ujar Nabi: "Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya, yaitu menunaikan haji" (HR. Thabrani).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda: " Jihad orang yang tua, lemah dan wanita ialah menunaikan haji" (HR. Nasa'i).
3. Penghapus dosa
Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak bercampur pada waktu terlarang serta tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti saat dilahirkan ibunya (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Sebagai duta Allah
Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah. Maka jika mereka memohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun, pastilah diampuni-Nya (HR. Nasa'i dan Ibnu Majah).
5. Menghapus kefakiran
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda: “Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa, sebagaimana alat peniup api pandai besi menghilangkan kotoran pada besi, emas, dan perak. Dan tiada balasan pahala dari haji yang mabrur, kecuali surga. Tidaklah seorang mukmin yang dalam kesehariannya berada dalam keadaan ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosnya.”
6. Mendapat balasan surga
Rasul Saw bersabda: Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dibanggakan Allah di hadapan malaikatnya
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda: “Apabila mereka wukuf di Arafah, Allah membanggakannya di hadapan para malaikat…” (HR. Ibnu Hibban)
8. Doa-doanya diterima
Dari Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka."
9. Perlakuan istimewa saat meninggal ketika berhaji
Dari 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata: "Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dipadang 'Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasu-lullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: 'Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguh-nya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.'"
10. Setiap langkahnya adalah kebaikan
Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau mengangkatnya satu derajat."
Itulah keutamaan haji yang membuat berjuta-juta manusia “kepincut” hatinya untuk melaksanakan ibadah ini. Mereka rela mengeluarkan biaya yang berjuta-juta itu, bahkan sampai menjual sawah dan ladangnya agar bisa pergi haji. Nah, sekarang, bagaimana dengan Anda? (RA)
Langganan:
Postingan (Atom)
